Surabaya, 23 September 2024 – Mahasiswa STIKES Griya Husada Surabaya melaksanakan kegiatan PKM Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) bertema “Pemanfaatan Seledri sebagai Tanaman Obat Keluarga untuk Pengendalian Hipertensi” di RT 04/RW 01 Kelurahan Dukuh Pakis II Baru, Surabaya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman herbal, khususnya seledri, sebagai alternatif nonfarmakologis dalam membantu pengendalian hipertensi.
PKM-PM atau Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat merupakan salah satu program yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk membantu masyarakat sekaligus menumbuhkan minat mahasiswa dalam mengabdikan ilmunya secara langsung kepada masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa dituntut untuk mampu memberikan ide kreatif yang diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus masalah kesehatan akibat pola makan tidak teratur dan gaya hidup yang kurang sehat. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan menjadi salah satu faktor yang dapat memicu berbagai penyakit tidak menular, termasuk hipertensi.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi hipertensi pada penduduk Indonesia usia ≥18 tahun berdasarkan hasil pengukuran mencapai 34,1 persen. Hipertensi juga dikenal sebagai silent killer karena sering kali tidak disadari oleh penderitanya hingga menimbulkan komplikasi serius seperti gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Mahasiswa menjelaskan bahwa hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang terus mengalami peningkatan, terutama akibat pola hidup kurang sehat seperti konsumsi makanan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, serta minimnya pemeriksaan kesehatan rutin.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat dan memanfaatkan tanaman herbal sebagai pendukung pengendalian hipertensi. Salah satu tanaman herbal yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah seledri yang diketahui memiliki kandungan apiin, yaitu senyawa yang bersifat diuretik dan diduga mampu membantu melebarkan pembuluh darah sehingga dapat membantu menurunkan tekanan darah.
Berdasarkan hasil wawancara kelompok mahasiswa bersama Ketua RT setempat, diketahui bahwa sebagian masyarakat belum mengetahui manfaat daun seledri sebagai tanaman obat keluarga. Selain itu, kader RT 04 juga menyampaikan bahwa hipertensi tidak hanya dialami oleh lansia, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada usia produktif di atas 30 tahun.
Melalui kegiatan PKM-PM ini, mahasiswa berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat RT 04/RW 01 Dukuh Pakis II Baru mengenai manfaat daun seledri untuk pengendalian hipertensi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
Program pengabdian masyarakat tersebut mencakup berbagai kegiatan edukatif, seperti penyuluhan kesehatan tentang hipertensi, pengukuran tekanan darah, demonstrasi pembuatan minuman olahan seledri, pemutaran video cara pengolahan seledri, hingga pembagian bibit tanaman seledri kepada masyarakat.
Dalam sesi demonstrasi, mahasiswa juga memperkenalkan cara pengolahan rebusan daun seledri berdasarkan metode yang dijelaskan oleh Kartika Mariyona (2020). Pembuatan rebusan dilakukan menggunakan 100 gram daun seledri segar yang dicuci bersih dan dipotong kasar, kemudian direbus menggunakan 400 ml air selama kurang lebih 15 menit hingga tersisa sekitar 200 ml. Setelah itu, rebusan dituangkan ke dalam gelas dan didiamkan selama dua menit sebelum dikonsumsi. Rebusan seledri dianjurkan diminum masing-masing 100 ml pada pagi dan malam hari.
Selain kegiatan penyuluhan di masyarakat, mahasiswa juga melaksanakan pemberian hasil rebusan seledri kepada penghuni Asrama STIKES Griya Husada Surabaya sebagai contoh pemanfaatan praktis seledri dalam pengendalian hipertensi. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan edukasi secara langsung mengenai manfaat konsumsi rebusan seledri bagi kesehatan.
Sebelum pemberian rebusan seledri, mahasiswa terlebih dahulu melakukan pengukuran tekanan darah kepada penghuni asrama untuk mengetahui kondisi tekanan darah awal. Bagi penghuni yang memiliki tekanan darah tinggi, diberikan rebusan seledri dan dilakukan pemeriksaan ulang setelah 30 menit guna melihat perubahan tekanan darah setelah mengonsumsi rebusan daun seledri. Mahasiswa juga menjelaskan bahwa konsumsi rebusan daun seledri sebaiknya dilakukan secara rutin dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari, sebagai bagian dari upaya pengendalian hipertensi.
Dalam pelaksanaan kegiatan, tim mahasiswa juga melakukan registrasi dan pengukuran tekanan darah kepada masyarakat RT 04/RW 01 Kelurahan Dukuh Pakis II Baru. Pemeriksaan tersebut bertujuan mengetahui kondisi tekanan darah masyarakat dengan kategori normal, hipertensi, maupun hipotensi berdasarkan standar WHO.
Mahasiswa turut memberikan penyuluhan singkat mengenai hipertensi, faktor risiko, cara pencegahan, manfaat daun seledri, cara pengolahan rebusan seledri, hingga cara membudidayakan tanaman seledri sebagai tanaman obat keluarga yang mudah diterapkan di rumah.
Sebagai bagian dari edukasi masyarakat, tim juga menampilkan video dokumentasi mengenai proses pembuatan rebusan seledri beserta testimoni penghuni asrama yang telah mengonsumsi olahan tersebut. Selain itu, leaflet edukasi turut dibagikan kepada masyarakat sebagai media informasi yang dapat dipelajari kembali setelah kegiatan selesai.
Pada akhir kegiatan, mahasiswa membagikan bibit tanaman seledri kepada masyarakat RT 04/RW 01 Kelurahan Dukuh Pakis II Baru sebagai bentuk keberlanjutan program. Pembagian bibit ini bertujuan mendorong masyarakat untuk membudidayakan tanaman seledri secara mandiri di rumah masing-masing sehingga pemanfaatan tanaman obat keluarga dapat terus berlangsung.
Kegiatan PKM-PM ini menghasilkan beberapa output, di antaranya meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat seledri sebagai tanaman obat keluarga, kemampuan masyarakat dalam mengolah rebusan daun seledri, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan tekanan darah rutin, serta bertambahnya jenis tanaman obat keluarga di lingkungan masyarakat.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme masyarakat yang tinggi dalam mengikuti penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, hingga demonstrasi pengolahan seledri sebagai minuman herbal. Melalui program ini, mahasiswa berharap masyarakat dapat memanfaatkan tanaman herbal secara efektif dan berkelanjutan dalam membantu pengendalian hipertensi serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara umum.
STIKES Griya Husada Surabaya terus mendukung berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang inovatif dan edukatif sebagai bentuk kontribusi nyata institusi pendidikan dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.





